Kurt Cobain: Musik, Jainisme, dan 22 Tahun Kepergiannya

Jakarta – “Lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain.”

Anda akrab dengan kata-kata itu? Jika iya, sesungguhnya kalimat ini adalah kutipan asli dari legenda musik dunia bernama Kurt Donald Cobain atau yang lebih populer dengan nama Kurt Cobain.

Sudah banyak orang, selebriti ataupun fans yang menduplikasi kalimat ini hingga mungkin bagi anak zaman sekarang –terutama yang tengah menjadi jati diri– ucapan ini sepertinya paling enak diklaim massal di media sosial.

Di Indonesia, hari sudah memasuki Rabu (6/4). Tapi di Amerika sana masih Selasa (5/4) dan masih banyak orang dan fans yang memperingati 22 tahun kepergian Kurt yang tewas pada 5 April 1994 silam.

Putri tercinta Kurt, Frances Bean Cobain yang memproduseri film dokumenter perjalanan karier — atau lebih tepatnya hidup — sang ayah dalam ‘Montage of Heck’ mem-posting tribute kepergian ayahnya lewat Instagram.

Frances juga mengunggah foto vokalis Alice In Chains, Layne Staley yang meninggal dunia pada 2002,  pada tanggal yang sama dengan Kurt, 5 April.

“Rest in peace, you two beautiful souls,” tulis Frances sekitar lima jam lalu.

Ya, Kurt yang melegenda dengan musik rock, punk (grunge atau apalah namanya itu, Kurt sendiri tak pernah suka dengan istilah yang identik dengan musik Seattle itu) mengembuskan napas terakhir pada 5 April di kediamannya. Setelah meregang nyawa ia baru ditemukan tiga hari kemudian.

Sedikit mengulas lagi detik-detik di kematian pentolan Nirvana ini 22 tahun lalu. Setelah kabur dari pusat rehabilitasi ketergantungan obat di Exodus, California Kurt Cobain menjalani hari-hari tanpa terdeteksi.

Penyanyi dengan penyakit perut kronis itu sempat naik taksi mencari senjata laras panjang Remington 11, yang nantinya ia pakai untuk bunuh diri. Kurt Kembali ke kediamannya di Aberdeen, Washington DC. Ia berhasil mengelabui sang istri, Courtney Love dan penjaga rumahnya.

Dikutip dari buku biografinya, ‘Heavier Than Heaven’, jelang ajalnya, Kurt sempat mondar-mandir setelah tiba di rumah. Di dapur ia mengambil sekaleng rootbeer merek Braq’s favoritnya.

Di dalam ruangan di lantai atas, Kurt diketahui membawa sekotak heroin, rootbeer, handuk dan senjata. Hari itu, 5 April 1994, pagi yang gelap dan basah sudah menyapa. Hingga keputusan mengakhiri nyawanya memang benar-benar ia lakukan. Napas Kurt makin berat. Setelah menulis banyak kata di secarik kertas, akhirnya kalimat pamungkas pun hampir ia rampungkan.

Kurt lantas mengambil senjata laras panjangnya dan merapikan tas senapan itu dengan sangat rapi. Sesaat Kurt sempat kembali ke wastafel untuk memasak heroinnya. Ia kembali bersandar dan menghabiskan rokok serta rootbeer-nya. Kurt melihat ke arah jendela yang mendung dan lembab.

Pada 5 April 1994 pagi buta, Kurt menondongkan senapannya ke mulutnya. Dan setelahnya, Kurt pergi untuk selama-lamanya di usia 27 tahun.

Sejak kecil, ia memang seorang kreatif. Ia sosok yang kerap menumpahkan segala sisi emosinya lewat tulisan, lukisan di media apapun. Sejak kecil tembok sudah jadi teman akrabnya menulis ataupun melukis.

Kurt juga punya teman kecil bernama Boddah. Bahkan sejak berusia dua tahun, Kurt sudah akrab dengan rekan yang ternyata sahabat khayalannya.

Bukan sekadar teman tentunya, karena dalam surat wasiat untuk keluarganya sebelum bunuh diri, Kurt menuliskan ‘To Boddah’ dalam secarik kertasnya itu. Sebelum menembak langit-langit mulutnya, Kurt juga diketahui memahami Jainisme, agama dharma yang bernabi Siddhanta. Ajaran ini diyakini lahir lebih dulu dari Buddha.

Setelah meninggal, sisa abu Kurt ditanam di depan pohon willow di depan rumah. Pada 1999, anak semata wayangnya, Frances akhirnya menyebarkan abu ayah tercinta di sungai McLane sembari diiringi doa seorang biksu.

Kurt memang gila. Kurt memang jenius. Namun kisah hidupnya terlalu sulit ia telan sendiri hingga akhirnya ia tak kuat terbebani dengan ketenaran, ketergantungan obat, perceraian orangtua serta penyakitnya sendiri.

Kehidupannya memang tak patut dicontoh. Permainan gitarnya juga tak menuhankan skill karena ia memang tak jago-jago amat. Tapi, dalam bermusik ia adalah dewa bagi pengklibat rock sederhana yang mementingkan nyawa dalam lirik-lirik nyelenehnya.

Kurt lugas dalam merangkai nada. Saat kemunculan Nirvana pertama kali, industri saat itu tengah menggandrungi glam rock dan metal yang menuntut permainan gitar ciamik. Lalu dengan seenak jidatnya, Kurt bersama dua pemuda Aberdeen lainnya (Dave Grohl, Krist Novoselic) mencekoki penikmat musik dengan sajian sederhana dan jujur mereka yang begitu ‘racun’ untuk didengar.

Dan, karena itu pula, meski tak lama-lama amat merengkuh ketenaran, Nirvana tetap akan dikenang sebagai band yang melegenda. Matthew Bellamy dari Muse pernah berkata, “Seseorang yang besar itu pergi puluhan tahun lalu, tapi pengaruhnya masih begitu besar bagi saya,” ucap vokalis band yang sering memainkan lagu Nirvana di atas panggung itu.

(kmb/mmu)

sumber:http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656091/s/4ebf99e9/sc/3/l/0Lhot0Bdetik0N0Cread0C20A160C0A40C0A60C110A2470C3180A8210C230A0Ckurt0Ecobain0Emusik0Ejainisme0Edan0E220Etahun0Ekepergiannya/story01.htm

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca Kurt Cobain: Musik, Jainisme, dan 22 Tahun Kepergiannya. Jika Anda ingin atau sedang mencari lagu musik MP3, silakan masuk ke download.lagu.info dan ketikkan judul lagunya di kolom pencarian! Gratis!! Jangan lupa bagikan halaman ini di sosial media sebagai apresiasi kamu ;)