Salam terakhir The Brandals

Jakarta (ANTARA News) – Festival musik SoundsFair tahun ini menjadi panggung terakhir bagi band rock and roll The Brandals, yang telah sepakat memutuskan untuk vakum sampai waktu yang belum ditentukan.

Mereka tampil spesial dalam konser perpisahan Sabtu (25/10) malam. Para personel The Brandals, Eka Annash (vokalis), Tony Dwi Setiaji (gitaris), Mulyadi “PM” Natakusumah (gitaris), Radhit Syaharzam (bass), dan Rully Annash (drum) melukis wajah mereka menyerupai tengkorak.

Alunan lagu “Start Bleeding” dari album terakhir mereka “De Generate” disambut tepukan meriah penonton yang membludak di arena Assembly 3 A Create Zone, Jakarta Convention Center.

Eka lalu muncul dengan jubah seperti jubah tokoh drakula dan langsung menggebrak panggung. Tanpa basa-basi, ia melanjutkan dengan lagu “Janji 1000 hari” dan “Dryland”. Penonton ikut bergoyang.

“The Brandals sudah menginjak usia 12 tahun,” kata Eka.

“Terimakasih teman-teman dari label kami, fotografer-fotografer pertunjukkan kami, ada juga pacar, mantan pacar,” ujar Eka, mengawali salam perpisahan mereka.

Lagu mereka mengajak penonton bernostalgia dengan “Lingkar Labirin”. Penonton ikut menyanyikan lagu dari album pertama “The Brandals” (2003), yang membuat nama mereka terkenal setelah mengganti nama band dari The Motives, yang terbentuk 22 Desember 2001.

“Beberapa tahun lalu kami tampil di Menteng hanya ditonton 15 orang. Sekarang sudah begini, ratusan,” kata Eka lalu mengucapkan terimakasih kepada para penggemar mereka.

“Jadi kalau kita berhenti cuma sebentar, bakal ada band-band yang nanti nerusin,” tambah Eka.

Eka lantas memancing penonton untuk ikut bernyanyi dan bergoyang bersamanya sebelum menyanyikan lagu “The Last Laugh”.

“Ngerti enggak lo The Brandals? Diem aja dari tadi!” teriak Eka dengan gaya ceplas-ceplosnya.

Suasana semakin meriah saat lagu lama mereka yang berjudul “100 km/jam” dinyanyikan. Tanpa perintah, penonton langsung ikut bernyanyi.

Eka lalu pergi meninggalkan panggung. Instrumen musik dari lagu “DGRN8” dimainkan. Eka muncul lagi tanpa lukisan wajah. Lalu, ia memanggil penyanyi rap Iwa K untuk berkolaborasi membawakan lagu “Abrasi”.

Pelukan The Brandals

The Brandals terus menghentak panggung dengan lagu-lagu seperti “Marching Menuju Maut”, “100 Persen Kontrol” dan “Awas Polizei”. Penonton ikut bernyanyi dan bergoyang bersama mereka.

Lagu “Perak” dipilih menjadi penutup penampilan The Brandals. Di sela lagu, Eka menjatuhkan alat efek suaranya. Radith lalu menarik Eka dan memeluknya. Keduanya menghampiri Tony, PM, dan Rully. Mereka saling berpelukan hingga semuanya terjatuh. The Brandals lalu berpamitan dan meninggalkan panggung.

Penonton memberikan tepuk tangan paling meriah dan menyimpan rindu mereka untuk melihat pertunjukkan The Brandals sampai suatu saat mereka bermain lagi.

Album dari Audio Imperialist tidak sempat mereka nyanyikan dalam durasi satu jam penampilan mereka.

Malam itu terasa belum cukup untuk bernostalgia dengan lagu-lagu The Brandals dari lima album studio mereka. Tapi The Brandals sudah menyampaikan salam terakhir mereka.

Editor: Maryati

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Salam terakhir The Brandals | Claudia Minda | 4.5

Leave a Reply

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better